Kamis, 24 Januari 2013

Konsep Askep Kolitis Ulseratif

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN KOLITIS ULSERATIF A. DEFINISI Kolitis Ulseratif adalah peyakit ulseratif dan inflamasi berulang dari lapisan mukosa kolon dan rectum.(Keperawatan Medikal Bedah. Vol 2.2001.1106) Kolitis Ulseratif merupakan penyakit peradangan pada kolon non spesifik yang umumny berlangsung lama disertai masa remisi dan eksaserbasi yang berganti- ganti. (Patofisiologi Konsep Klinis Proses Penyakit. Vol 1.2005.461) Kolitis Ulseratif adalah penyakit serius disertai dengan komplikasi sistemik dan angka mortilitas yang tinggi. Akhirnya 10% sampai 15% pasien mengalami karsinoma kolon. (Keperawatan Medikal Bedah. Vol 2. 2001.1106) Kolitis Ulseratif adalah inflamasi usus yang kronis dan hanya mengenai mukosa dan submukosa kolon. (Patofisiologi Aplikasi Pada Praktik Keperawatan. 2009.321) Kolitis Ulseratif adalah merupakan penyakit primer yang didapatkan pada kolon, yang merupakan perluasaan dari rektum. (Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. 1990. 137) Kolitis ulseratif adalah kondisi kronis yang tidak diketahui penyebabnya biasanya dimulai pada rectum dan bagian distal kolon dan mungkin menyebar keatas dan melibatkan sigmoid dan kolon desenden atau seluruh kolon. Ini biasanya hilang timbul (akut eksaserbasi dengan remisi panjang), tetapi beberapa individu (30%-40%) mengalami gejala terus menerus. (Marilynn E. Doenges. Edisi 3. Hal:471) Ulcerative Colitis is a chronic inflammatory process of the bowel that can result in poor absorption of vital nutrient. (Medical Surgical Nursing. 2nd Edition. Page: 1638) B. ETIOLOGI Beberapa faktor penyebab terjadinya Kolitis Ulseratif yaitu : a. Faktor genetik tampaknya berperan dalam etiologi karena terdapat hubungan familial yang jelas antara colitis ulseratif, enteritis regional dan spondilitis ankilosa. b. Lingkungan seperti pestisida, adiktif makanan, tembakau, dan radiasi. c. Imunologi. Penelitian menunjukkan abnormalitas dalam imunitas seluler dan humoral pada orang dengan gangguan ini. d. Mikobakterium. e. Alergi. f. Diet. C. GAMBARAN KLINIS Terdapat tiga tipe klinis: a. Kolitis ulseratif akut fulminan ditandai oleh awitan mendadak disertai diare berdarah, nausea, muntah-muntah yang hebat, demam prognosis jelek dan sering terjadi komplikasi mengakolon toksik. b. Kolitis ulseratif kronik intermitten (rekuren) Timbulnya cenderung pelan-lean selama berbulan-bulan sampai bertahun-tahun. Bentuk ringan penyakit ditandai oleh serangan singkat yang terjadi dengan interval berbulan-bulan sampai bertahun-tahun dan berlangsung 1 – 3 bulan. Mungkin hanya terdapat sedikit atau tidak ada demam diare mungkin ringan, perdarahan ringan dan intermiten biasanya hanya colon bagian distal yang terserang. c. Kolitis ulseratif kronik kontinyu. Demam dan gejala-gejala sistemik dapat timbul pada bentuk yang lebih berat dan serangan berlangsung 3 atau 4 bulan pada keadaan ini penderita diare terus-menerus colon yang terserang cenderung lebih luas. Defekasi lebih dari 6 x sehari disertai banyak darah dan mucus nyeri kolik hebat. D. PATOFISIOLOGI Suatu serangan bisa mendadak dan berat, menyebabkan diare hebat, demam tinggi, sakit perut dan peritonitis (radang selaput perut). Selama serangan, penderita tampak sangat sakit. Yang lebih sering terjadi adalah serangannya dimulai bertahap, dimana penderita memiliki keinginan untuk buang air besar yang sangat, kram ringan pada perut bawah dan tinja yang berdarah dan berlendir. Jika penyakit ini terbatas pada rektum dan kolon sigmoid, tinja mungkin normal atau keras dan kering. Tetapi selama atau diantara waktu buang air besar, dari rektum keluar lendir yang mengandung banyak sel darah merah dan sel darah putih. Gejala umum berupa demam, bisa ringan atau malah tidak muncul. Jika penyakit menyebar ke usus besar, tinja lebih lunak dan penderita buang air besar sebanyak 10-20 kali/hari. Penderita sering mengalami kram perut yang berat, kejang pada rektum yang terasa nyeri, disertai keinginan untuk buang air besar yang sangat. Pada malam haripun gejala ini tidak berkurang. Tinja tampak encer dan mengandung nanah, darah dan lendir. Yang paling sering ditemukan adalah tinja yang hampir seluruhnya berisi darah dan nanah. Penderita bisa demam, nafsu makannya menurun dan berat badannya berkurang.Kolitis ulseratif adalah penyakit ulseratif dan inflamasi berulang dari lapisan mukosa kolon dan rectum. Penyakit ini umumnya mengenai orang kaukasia, termasuk keturunan Yahudi. Puncak insidens adalah pada usia 30-50 tahun. Kolitis ulseratif adalah penyakit serius, disertai dengan komplikasi sistemik dan angka mortalitas yang tinggi. Akhirnya 10%-15% pasien mengalami karsinoma kolon. Kolitis ulseratif mempengaruhi mukosa superfisisal kolon dan dikarakteristikkan dengan adanya ulserasi multiple, inflamasi menyebar, dan deskuamasi atau pengelupasan epitelium kolonik. Perdarahan terjadi sebagai akibat dari ulserasi. Lesi berlanjut, yang terjadi satu secara bergiliran, satu lesi diikuti lesi yang lainnya. Proses penyakit mulai pada rectum dan akhirnya dapat mengenai seluruh kolon. Akhirnya usus menyempit, memendek dan menebal akibat hipertrofi muskuler dan deposit lemak. E. EPIDEMIOLOGI Colitis ulseratif terjadi pada 35-100 orang untuk setiap 100.000 di Amerika Serikat, atau kurang dari 0,1% dari populasi. Penyakit ini cenderung lebih umum di daerah utara. Meskipun kolitis ulserativa tidak diketahui penyebabnya, diduga ada genetik kerentanan komponen. Penyakit ini dapat dipicu pada orang yang rentan oleh faktor-faktor lingkungan. Meskipun modifikasi diet dapat mengurangi ketidaknyamanan seseorang dengan penyakit, kolitis ulserativa tidak diduga disebabkan oleh faktor-faktor diet. Meskipun kolitis ulserativa diperlakukan seolah-olah itu merupakan penyakit autoimun, tidak ada konsensus bahwa itu adalah seperti itu. Pengobatannya dengan obat anti-peradangan, kekebalan, dan terapi biologis penargetan komponen spesifik dari respon kekebalan. Colectomy (parsial atau total pengangkatan melalui pembedahan usus besar) yang kadang-kadang diperlukan, dan dianggap sebagai obat untuk penyakit. Awitan puncak penyakit ini adalah antara usia 15 sampai 40 tahun, dan menyerang kedua jenis kelamin sama banyak. F. GEJALA DAN TANDA Kebanyakan gejala Colitis ulserativa pada awalnya adalah berupa buang air besar yang lebih sering. Gejala yang paling umum dari kolitis ulseratif adalah sakit perut dan diare berdarah. Pasien juga dapat mengalami: a) Anemia b) Fatigue/ Kelelahan c) Berat badan menurun d) Hilangnya nafsu makan e) Hilangnya cairan tubuh dan nutrisi f) Lesi kulit (eritoma nodosum) g) Lesi mata (uveitis) h) Nyeri sendi i) Kegagalan pertumbuhan (khususnya pada anak-anak) j) Buang air besar beberapa kali dalam sehari (10-20 kali sehari) k) Terdapat darah dan nanah dalam kotoran. l) Perdarahan rektum (anus). m) Rasa tidak enak di bagian perut. n) Mendadak perut terasa mulas. o) Kram perut. p) Sakit pada persendian. q) Rasa sakit yang hilang timbul pada rectum r) Anoreksia s) Dorongan untuk defekasi t) Hipokalsemia Tanda lain yang mungkin muncul : 1) takikardi, 2) kemerahan area ekimosis (kurang vit. K), 3) hipotensi, 4) turgor buruk, 5) lidah pecah-pecah, 6) depresi, 7) menolak, 8) perhatian menyempit, 9) menurunnya bising usus, t 10) ak ada peristaltic atau adanya peristaltic yang dapat dilihat, 11) hemorrhoid, 12) fisura anal, 13) fistula perianal, 14) oliguria, 15) penurunan lemak masa otot, 16) kelemahan tonus otot, 17) membrane mukosa pucat, 18) inflamasi rongga mulut, 19) stomatitis, 20) bau badan, 21) nyeri tekan abdomen, 22) eritema nodusum meningkat pada tangan, 23) muka pioderma gangrenosa pada paha, kaki dan mata kaki, 24) ankilosa spondilitis, 25) uveitis, 26) konjungtivitis, 27) ketidakmampuan aktif dalam social G. KOMPLIKASI Komplikasi pada Kolitis Ulseratif adalah : a. Penyempitan lumen usus. b. Pioderma gangrenosa. c. Episkleritis. d. Uveitis. e. Arthritis. f. Spondilitis ankilosa. g. Gangguan fungsi hati. h. Karsinoma kolon. i. Retinitis. j. Hemoragi. k. Perforasi. l. Neoplasma malignan. m. Nefrolitiasis. n. Eritema nodosum. o. Batu ginjal. p. Batu empedu. H. DIAGNOSIS 1) Pemeriksaan laboratorium (Wu, 2009) Temukan pada pemeriksaan laboratorium dalam evaluasi colitis ulseratif mungkin menunjukkan tanda-tanda berikut. a) Anemia ( yaitu hemoglobin < 14 g/dL pada pria dan < 12 g/dL pada wanita). b) Trombositosis ( yaitu platetet > 350.000/┬ÁL). c) Peningkatan tingkat sedimentasi ( variable referensi rentang, biasanya 0-33 mm/jam) dan peningkatan C-reactiv protein ( yaitu >100 mg/L). kedua temuan ini berkolerasi dengan aktivitas penyakit. d) Hipoalbuminemia ( yaitu albumin < 3,5 g/dl). e) Hipokalemia ( yaitu kalium < 3,5 mEq/dL). f) Hipomagnesemia ( yaitu magnesium < 1,5 mg/dL). g) Peningkatan alkalin fosfatase; lebih dari 125 U/L menunjukkan kolangitis sclerosing primer ( biasanya > 3 kali batas atas dari kisaran referensi). h) Pada diagnosis colitis ulseratif kronis, pemeriksaan feses yang cermat dilakukan untuk membedakan dengan disentri yang disebabkan oleh organisme usus umum, khususnya Entamoeba histolytica. Feses positif terhadap darah. 2) Pemeriksaan radioaktif a. Foto polos abdomen Sinar rontgen mungkin menunjukkan dilatasi kolon, dalam kasus yang parah bisa mengakolon toksik. Selain itu, bukti perforasi, atau ileus juga dapat diamati (Khan, 2009) b. Studi kontras barium barium enema dapat dilakukan dengan aman dalam kasus ringan. Dengan barium enema dapat dilihat adalanya mengakolon toksik, kondisi ulkus, dan penyempitan kolon. Selain itu, enema barium akan menunjukan iregulasi mucosal, pemendekan kolon, dan dilatasi lekung usus (Carucci, 2002) c. CT Scan. secara umum CT scan memainkan peran kecil dalam diagnosis colitis ulseratif. CT ulseratif scan dapat menunjukan penebalan dinding kolon dan dilatasi bilier primer kolangitis skleorosis. 3) Prosedur endoskopi Endoskopi dapat menunjukan mukosa yang rapuh, mukosa terinflasi dengan eksudat dan ulserasi. Temuan di sigmoidoskopi fleksibel dapat memberikan diagnosis colitis . tujuan lain dari pemeriksaan ini adalah untuk mendukomenyasian sejauh mana progresivitas penyakit, untuk memantau aktivitas penyakit , dan sebagai surveilans untuk dysplasia atau kanker. Namun , berhati –hati dalam upaya kolonoskopi dengan biopsy pada pasien dengan penyakit parah karena risiko yang mungkin perforasi lainnya komplikasi (Rajwal, 2004) I. PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan medis dilakukan , meliputi hal-hal berikut : 1) Penatalaksanaan secara umum a. Pendidikan terhadap keluarga dan penderita. b. Menghindari makanan yang mengeksaserbasi diare. c. Menghindari makanan dingin, dan merokok karena keduanya dapat meningkatkan motilitas usus. d. Hindari susu karena dapat menyebabkan diare pada individu yang intoleransi lactose. 2) Terapi farmakologi Tujuan terapi farmakologi adalah untuk mengurangi morbiditas dan untuk mencegah komplikasi, dengan pertimbangan terapi berikut ini. a. Tumor necrosis factor (TNF) inhibitor. Agen ini mencegah sitokin endogen dari mengikat ke respetor permukaan sel dan mengerahkan aktivitas biologis b. Immunomodulators. Agen ini mengatur faktor faktor kunci dari system kekebalan tubuh c. Antibiotic, antibiotic belum belum terbukti memberikan keuntungan yang konsisten dari beberapa uji coba terkontrol untuk pengobatan colitis ulseratif aktif. Akan tetapi biasanya diberikan pada dasar empiris pada pasien dengan colitis yang parah dan dapat membantu menghindari suatu infeksi yang mengancam jiwa. d. Kortikosteroid. Digunakan dalam moderat hingga berat kasus aktif untuk induksi remisi. Agen ini tidak memiliki manfaat dalam mencegah remisi; pengunaan jangka panjang dapat menyebakan efek samping. 3) Terapi bedah Bedah memainkan peran integral dalam pengobatan colitis ulseratif untuk mengontrol dan mengobati gejala komplikasi. Pembedahan dilakukan sesuai dengan kondisi klinik individu. Bebrapa jenis pembedahan pada colitis ulseratif, meliputi : subtotal colectomy with ileotomy and harmann’s pouch, total proctocolectomy with litomy, total abdominal colectomy with ideal rectal anastomosi , total proctocoltomy with continent (Kock) pouch, total proctocolectomy with ileal pouch anal anastomosis, anal transitions zone preservation, dan diverting ileostomy. Pertimbangan untuk total kolektomi adalah sebagai berikut (Becker, 1999) • Refraktori penyakit dengan kegagalan terapi medis. • Terdapat bukti karsinoma atau displasia. • Pendarahan parah. • Kolitis fulminan tidak responsive terhadap pengobatan. • Megakolon toksik. • Perforasi • Obstruksi dan striktur dengan kecurigaan untuk kanker. • Sistemik komplikasi dari obat khususnya steroid. • Gagal tumbuh pada anak-anak. 4) Psikoterapi : Ditujukan untuk menentukan factor yang menyebabkan stres pada pasien, kemampuan menghadapi faktor- faktor ini, dan upaya untuk mengatasi konflik ehingga mereka tidak berkabung karena kondisi mereka. J. ASUHAN KEPERAWATAN a) Pengkajian 1. Pemeriksaan Fisik • Inspeksi • Auskultasi • Palpasi • Perkusi 2. Pemeriksaan Laboratorium / Data Penunjang • Sebuah hitung darah lengkap dilakukan untuk memeriksa anemia; Trombositosis, tinggi platelet count, kadang-kadang terlihat • Elektrolit studi dan tes fungsi ginjal dilakukan, sebagai kronis diare dapat berhubungan dengan hipokalemia, hypomagnesemia dan pra-gagal ginjal. • Tes fungsi hati dilakukan untuk layar untuk keterlibatan saluran empedu: kolangitis sclerosing utama. • X-ray • Urine • Bangku budaya, untuk menyingkirkan parasit dan menyebabkan infeksi. • Tingkat sedimentasi eritrosit dapat diukur, dengan tingkat sedimentasi yang tinggi menunjukkan bahwa proses peradangan hadir. • C-reactive protein dapat diukur, dengan tingkat yang lebih tinggi menjadi indikasi lain peradangan. • Sumsum tulang : Menurun secara umum pada tipe berat/setelah proses inflamasi panjang. • Alkaline fostase : Meningkat, juga dengan kolesterol serumdan hipoproteinemia, menunjukkan gangguan fungsi hati (kolangitis, sirosis) • Kadar albumin : Penurunan karena kehilangan protein plasma/gangguan fungsi hati. • Elektrolit : Penurunan kalium dan magnesium umum pada penyakit berat. • Trobositosis : Dapat terjadi karena proses penyakit inflamasi. • ESR : meningkatkarena beratnya penyakit. • Kadar besi serum : rendah karena kehilangan darah. b) Diagnosa 1. Nyeri b.d. iritasi intestinal, diare, kram abdomen, respons pembedahan. 2. Risiko ketidakseimbangan cairan tubuh b.d. keluar cairan tubuh dari muntah. 3. Actual / risiko tinggi ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d. intake makanan yang kurang adekuat. 4. Kecemasan b.d prognosis penyakit,misinterprestasi informasi, rencana pembedahan. c) Intervensi 1) Nyeri b.d. iritasi intestinal, diare, kram abdomen, sembelit, respons pembedahan  Tujuan : dalam waktu 3 x 24 jam pascabedah, nyeri berkurang atau teradaptasi.  Criteria evaluasi: o Secara subjektif pernyataan nyeri berkurang atau teradaptasi o Skala nyeri 0-1 (0-4). o TTV dalam batas normal, wajah pasien rileks. Intervensi Rasional Jelaskan dan bantu pasien dengan tindakan pereda nyeri nonfarmakologi dan noninvasif. Pendekatan dengan menggunakan relaksasi dan nonfarmakologi lainnya telah menunjukkan keefektifan dalam mengurangi nyeri. Lakukan manajemen nyeri keperawatan, meliputi: a) Kaji nyeri dengan pendekatan PQRST b) Beri oksigen nasal apabila skala nyeri ≥ 3 (0-4). c) Istirahatkan pasien pada saat nyeri muncul. d) Biasakan pasien untuk BAB di tempat tidur. e) Atur posisi fisiologis. f) Beri kompres hangat pada abdomen. a) Pendekatan PQRST dapat secara komprehensif menggali kondisi nyeri pasien. P : penyebab nyeri dapat diakibatkan oleh respons diare, kram abdomen, dan sembelit atau kerusakan jaringan pascabedah. Q: kualitas nyeri seperti tumpul, kram, dan mulas. R : area nyeri pada abdomen bawah kiri. S : pasien mengalami skala nyeri 3 (0-4). T : nyeri bertambah bila tidak bisa melakukan BAB. b) Pemberian oksigen dilakukan untuk memenuhi kebutuhan oksigen pada saat pasien mengalami nyeri pascabedah yang dapat mengganggu kondisi hemodinamik. c) Istirahat diperlukan untuk menurunkan peristaltic usus. d) Istirahat secara fisiologis dan melakukan BAB di tempat tidur akan menurunkan kebutuhan oksigen yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan metabolisme basal pada aktivitas dan menurunkan keletihan pascanyeri. e) Pengaturan posisi semipowler dapat membantu merelaksasi otot-otot abdomen pascabedah sehingga dapat menurunkan stimulus nyeri dari luka pascabedah. f) Member respons vasodilatasi. Kompres ini hanya dilakukan pada pasien tanpa pembedahan. Ajarkan teknik relaksasi pernafasan dalam pada saat nyeri muncul. Ajarkan teknik distraksi pada saat nyeri. Lakukan manajemen sentuhan. Meningkatkan intake oksigen sehingga akan menurunkan sekunder dari iskemia spina. Distraksi ( pengalihan perhatian ) dapat menurunkan stimulus internal. Manajemen sentuhan pada saat nyeri berupa sentuhan dukungan psikologis dapat membantu menurunkan nyeri. Tingkatkan pengetahuan tentang : sebab-sebab nyeri dan menghubungkan berapa lama nyeri akan berlangsung. Pengetahuan yang akan dirasakan membantu mengurangi nyerinya dan dapat membantu mengembangkan kepatuhan pasien terhadap rencana terapeutik. Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian: a) Analgenik via intravena. b) Antidiare. a) Analgenik diberikan untuk membantu menghambat stimulus nyeri ke pusat persepsi nyeri di korteks serebri sehingga nyeri dapat berkurang. b) Penurunan respons diare dapat menurunkan stimulus nyeri. 2) Risiko tinggi nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d. intake makanan yang kurang adekuat.  Tujuan : setelah 3x24 jam pada pasien nonbedah dan setelah 7x24 jam pascabedah intake nutrisi dapat optimal dilaksanakan.  Kriteria evaluasi : o Pasien dapat menunjukkan metode menelan makanan yang tepat. o Keluhan mual dan muntah berkurang. o Secara subjektif melaporkan peningkatan nafsu makan. o Berat badan pada hari ke-7 pascabedah meningkat 0,5 kg. Intervensi Rasional Kaji dan berikan nutrisi sesuai tingkat toleransi individu. Pemberian nutrisi pada pasien dengan enteritis regional bervariasi sesuai dengan kondisi klinik dan tingkat toleransi individu. Sajikan makanan dengan cara yang menarik. Membantu merangsang nafsu makan. Hal ini dapat diberikan bila toleransi oral tidak menjadi masalah pada pasien. Fasilitasi pasien memperoleh diet rendah lemak. Diet diberikan pada pasien dengan gejala malabsorpsi akibat hilangnya fungsi penyerapan permukaan mukosa, khususnya penyerapan lemak, keterlibatan ileum terminal dapat mengakibatkan steatorrhea( buang air besar dengan feses bercampur lemak). Fasilitasi pasien memperoleh diet dengan kandungan serat tinggi. Suplemen serat dikatakan bermanfaat bagi pasien dengan penyakit kolon karena fakta bahwa serat makanan dapat diubah menjadi rantai pendek asam lemak, yang menyediakan bahan bakar untuk penyembuhan mukosa kolon. Fasilitasi pasie memperoleh diet rendah serat pada gejala obsrtuksi. Diet rendah serat biasanya diindikasikan untuk pasien dengan gejala obstruksi. Fasilitasi untuk pemberian nutrisi parenteral total. Nutrisi peranteral total (TPN ) digunakan bila gejala penyakit usus inflamasi bertambah berat. Dengan TPN, perawat dapat mempertahankan catatan actual tentang intake dan output cairan, serta berat basdan pasien setiap hari. Berat badan pasien harus meningkat 0,5 kg setiap hari selama terapi. Urine diuji setiap hari terhadap adanya glukosa, aseton dan berat jenis bila TPN digunakan. Pemberian makan yang tinggi protein, rendah lemak, dan residu dilakukan setelah terapi TPN karena makanan ini dicerna terutama pada jejunum, tidak merangsan sekresi usus, dan memungkinkan usus beristirahat. Intoleransi dicatat bila pasien menunjukkan mual, muntah, diare, atau distensi abdomen. Pantau intake dan output, anjurkan untuk timbang berat badan secara periodik ( sekali seminggu ). Berguna dalam mengukur keefektifan nutrisi dan dukungan cairan. Lakukan perawatan mulut. Intervensi ini untuk menurunkan resiko infeksi oral. Kolaborasi dengan ahli gizi mengenai jenis nutrisi yang akan digunakan pasien. Ahli gizi harus terlibat dalam penentuan komposisi dan jenis makanan yang akan diberikan sesuai dengan kebutuhan individu. 3) Actual/resiko ketidakseimbangan cairan dan elektrolit b.d. diare, kehilangan cairan dari gastrointestinal, ganggguan absorpsi usus besar, pengeluaran elektrolit dari muntah.  Tujuan : dalam waktu 1x24 jam tidak terjadi ketidakseimbangan cairan dan elektrolit.  Kriteria : o Pasien tidak mengeluh pusing TTV dalam batas normal, kesadaran optimal. o Membran mukosa lembab, turgor kulit normal, CRT > 3 detik. o Laboratorium : nilai elektrolit normal, analisis gas darah normal. Intervensi Rasional Kaji terhadap adanya tanda kekurangan volume cairan : kulit dan membrane mukosa kering, penuruna turgor kulit, oliguria, kelelahan, penurunan suhu, peningkatan hematokrit, peningkatan berat jenis urine, dan hipotensi. Intervensi pemenuhan cairan : a) Identifikasi faktor penyebab, awitan (onset), spesifikasi usia dan adanya riwayat penyakit lain. b) Lakukan pemasangan IVFD c) Dokumentasi dengan akurat tentang asupan dan haluaran cairan. a) Parameter dalam menentukan intervensi kedaruratan. Adanya riwayat keracunan dan usia anak atau lanjut usia membeerikan tingkat keparahan dari kondisi ketidakseimbangan cairan dan elektrolit. b) Apabila kondisi diare dan muntah berlanjut, maka lakukan pemasangan IVFD. Pemberian cairan intravena disesuaikan dengan derajat dehidrasi. Pemberian 1-2 L cairan Ringer laktat dengan tetesan cepat sebagai kompensasi awal hidrasi cairan di berikan untuk mencegah syok hipovolemik (lihat intervensi kedaruratan syok hipovolemik). c) Sebagai evaluasi penting dari intervensi hidrasi dan mencegah terjadinya over hidrasi. Bantu pasien apabila muntah Aspirasi muntah dapat terjadi terutama pada usia lanjut dengan perubahan kesadaran. Perawat mendekatkan tempat muntah dan memberikan masase ringan pada pundak untuk membantu menurunkan respons nyeri dari muntah. Intervensi pada penurunan kadar elektrolit. a) Evaluasi kadar elektrolit serum b) Dokumentasikan perubahan klinik dan laporkan dengan tim medis. c) Monitor khusus ketidakseimbangan elektrolit pada lansia. a) Untuk mendeteksi adanya kondisi hiponatremi dan hipokalemi sekunder dari hilangnya elektrolit dari plasma. b) Perubahan klinik seperti penurunan urine output secara akut perlu diberitahu kepada tim medis untuk mendapatkan intervensi selanjutnya dan menurunkan risiko terjadinya asidosis metabolik. c) Individu lansia dapat dengan cepat mengalami dehidrasi dan menderita kadar kalium rendah (hipokalemia) sebagai akibat diare. Individu lansia yang menggunakan digitalis harus waspada terhadap cepatnya dehidrasi dan hipokalemia pada diare. Individu ini juga diinstruksikan untuk mengenali tanda-tanda hipokalemia karena kadar kalium rendah dapat memperberat kerja digitalis, yang dapat menimbulkan toksisitas digitalis. Kolaborasi dengan tim medis terapi farmakologis : a) Antimikroba. b) Antidiare/antimotilitas. a) Antimikroba diberikan sesuai dengan pemeriksaan feses agar pemberian antimikroba dapat rasional diberikan dan mencegah terjadinya resistensi obat. b) Agen ini digunakan untuk menurunkan frekuensi diare. Salah satu obat yang lazim diberikan adalah loperamide (Imodium). 4) Kecemasan b.d prognosis penyakit,misinterprestasi informasi, rencana pembedahan.  Tujuan : dalam waktu 3 x 24 jam pascabedah, kecemasan berkurang atau teratasi.  Criteria evaluasi: o Mengidentifikasi situasi stres dan tindakan khusus untuk menerimannya. o Berpatisipasi dalam program pengobatan o Melakukan perubahan pola hidup tertentu Intervensi Rasional Lakukan manajemen nyeri keperawatan, meliputi: a) Tentukan persepsi pasien tentang Penyakit b) Kaji ulang obat, tujuan, frekuensi, dosisi, dan kemungkinan efek samping a) Membuat pengetahuan dasar dan memberikan kesadaran kebutuhan belajar individu b) Meningkatkan pemahaman dan dapat meningkatkan kerjasama dalam program d) Evaluasi : Hasil yang diharapkan setelah dilakukan tindakan keperawatan adalah sebagai berikut. 1. Nyeri dilaporkan berkurang atau terdaptasi. 2. Status hidrasi optimal. 3. Pemenuhan nutrisi optimal. 4. Penurunan respons kecemasan. BAB III KESIMPULAN Colitis ulseratif merupakan suatu penyakit menahun di usus besar mengalani peradangan dan luka,yang menyebabkan diare berdarah,kram perut dan demam.colitis ulseratif bisa dimulai pada umur berapapun,tapi biasanya dimulai antara umur 15-30 tahun. Penyebab penyakit ini tidak diketahui, namun factor keturunan dan respon sistem kekebalan tubuh yang terlalu aktif di usus,diduga berperan dalam terjadinya colitis ulseratif. Kebanyakan gejala Colitis ulseratif pada awalnya adalah berupa buang air besar yang lebih sering. Gejala yang paling umum dari kolitis ulseratif adalah sakit perut dan diare berdarah. BAB IV DAFTAR PUSTAKA Doenges, Marilynn E. 1993. Rencana Asuhan Keperawatan pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien Edisi 3. EGC:Jakarta Doengoes, (2001). Perencanaan Asuhan Keperawatan http://anajem.blogspot.com/2012/09/askep-kolitis-ulseratif.html http://cicicuit-asuhankeperawatankesehatan.blogspot.com/2012/01/askep-kolitis-ulseratif.html http://dc304.4shared.com/doc/bcGAa8S3/preview.html http://dicmuhono.wordpress.com/2009/12/26/9/ http://exkasaputra.blogspot.com/2012/10/askep-kolitis-ulseratif.html http://keperawatankomunitas.blogspot.com/2009/08/kolitis- ulseratif-ulseratif.html http://nerseducation.blogspot.com/2012/02/asuhan-keperawatan-kolitis-ulseratif.html http://nerssoliman.blogspot.com/2012/04/asuhan-keperawatan-colitis.html http://nurcing.wordpress.com/2010/01/18/asuhan-keperawatan-pasien-dengan-colitis-ulcerative/ Ignatavicius, Donna D., M.Linda Workman, Mary A. Mishler. 1995. Medical Surgical Nursing a nursing process approach 2nd edition. W.B Saunders Company:USA Muttaqim, Arif & Sari, Kumala Gangguan Gastrointestinal : Aplikasi Asuhan Keperawatan Medikal Bedah: Jakarta : Salemba Medika, 2012. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda 2005- 2006 Price, A., & Wilson,L.M. (2005). Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 6, Vol 1,hal 461- 464. Jakarta : EGC. Suddarth, B., Smeltzer, S. C., & Bare, B. G. (2001). Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8, Vol 2, hal 1106- 1120. Jakarta : EGC. Waspadji, S., dkk. (1990). Ilmu penyakit Dalam Jilid II. Jakarta: FKUI.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar