Kamis, 24 Januari 2013

konsep askep anak dengan down syndrome

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN DOWN SYNDROME KELOMPOK III • Ahmad Al Anshari • Anugrah Forcy Syabana • Dina Afridha Hayati • Fitria Sari • Husri Bahyuni • Lela • Mega Agustiana Bakri • Musyarofatul Hasanah • Oki Saputra • Rifqi Anshari • Siscatri Nindasari • Virgawati SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH BANJARMASIN PRODI S1 KEPERAWATAN KELAS IIIE TAHUN 2012 JL. LET. JEND. S.PARMAN BANJARMSIN TLP: 0511 3360265 KALIMANTAN SELATAN KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa , karena atas limpahan Rahmat dan Hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Asuhan Keperawatan Anak dengan Down Syndrome” Harapan kami semoga makalah ini dapat memberikan sumbangan yang berarti dan berguna. Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan baik dari segi materi yang disajikan maupun dari struktur bahasa yangdigunakan, itu semua tidak lain disebabkan oleh keterbatasan yang kami miliki, untuk itu kami sangat mengharapkan kritik, saran dan koreksi yang membangun dari para pembaca. Akhir kata mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca sekalian. DAFTAR ISI Kata Pengantar……………………………………………………………................ i Daftar Isi…………………………………………………………………...........…... ii BAB 1 : Konsep dasar Asuhan Keperawatan anak dengan Down syndrome A. Pengertian.................................................................................................. 1 B. Etiologi....................................................................................................... 2 C. Gejala dan tanda....................................................................................... 4 D. Patofisiologi............................................................................................... 5 E. Diagnosis.................................................................................................... 6 F. Penatalaksanaan....................................................................................... 7 G. Asuhan Keperawatan............................................................................... 9 BAB II : Penutup a. Kesimpulan............................................................................................... 20 b. Saran......................................................................................................... 20 Daftar Pustaka……………….....……………..........................…………………… 21 BAB I KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN DOWN SYNDROM A. PENGERTIAN Down syndrom merupakan kelainan kromosom yakni terbentuknya kromosom 21(trisomy 21),krosom ini terbentuk akibat kegagalan sepasang kromosom untuk saling memisahkan diri saat terjadi pembelahan.kelainan yang berdampak pada keterbelakangan pertumbuhan fisik dan mental. Syndrom down adalah gangguan kromosom yang paling sering diitemukan sekitar 95% orang yang terkena memiliki trisomy 21 sehingga sejumlah kromosom mereka adalah 47.seperti telah disinggung sebelumnya ,penyebab tersering trisomi,dan karenanya sindrom down adalah Nondisjunction meiotic. Orang tua para anak ini memiliki kriotipe normal dalam semua aspek.Usia ibu memperlihatkan pengaruh kuat pada insiden syndrom down.Kelainan ini terjadi pada 1 dari 1550 kelahiran hidup pada perempuan berusia kurang dari 20 tahun,berbeda dengan 1 dari 25 kelahiran hidup pada perempuan berusia lebih dari 45 tahun.korelasi dengan usia ibu mengisyaratkan bahwa pada sebagian besar kasus nondisjunction meiotic pada kromosom 21 terjadi di ovum.Memang pada 95% kasus kromosom tambahan berasal dari ibu.Penyebab terjadinya kerentanan ovum terhadap nondisjunction belum sepenuhnya dipahami.Tidak ditemukan efek usia ayah pada kasus yang kromosom tambahannya berasal dari ayah. Pada sekitar 4% dari semua pasien trisomi 21,bahan kromosom tambahan terdapat bukan sebagai kromosom tambahan ,tetapi sebagai translokasi lengan panjang kromosom 21 ke kromosom 22 atau 14.kasus tersebut biasanya familial,dan kromosom yamg mengalami translokasi diwarisi dari slah satu orang tua,yang umumnya adalah pembawa sifat untuk translokasi robertosonian.Konskuensi perkawinan seorang pembawa translokasi 14;21(yang mungkin secara fenotife normal,dengan jumlah kromosom 45). B. ETIOLOGI Ibu hamil setelah lewat umur (lebih dari 40 th) kemungkinan melahirkan bayi dengan Down syndrome. Infeksi virus atau keadaan yang mempengaruhi susteim daya tahan tubuh selamaibu hamil. Penyebab dari Sindrom Down adalah adanya kelainan kromosom yaitu terletak pada kromosom 21 dan 15, dengan kemungkinan-kemungkinan : 1. Postzygotic non disjunction ( Mosaicism ) 2. Translokasi kromosom 21 dan 15 3. Non Disjunction sewaktu osteogenesis ( Trisomi ) Faktor-faktor yang berperan dalam terjadinya kelainan kromosom ( Kejadian Non Disjunctional ) adalah : a. Genetik Karena menurut hasil penelitian epidemiologi mengatakan adanya peningkatan resiko berulang bila dalam keluarga terdapat anak dengan syndrom down. b. Radiasi Ada sebagian besar penelitian bahwa sekitar 30 % ibu yang melahirkan ank dengan syndrom down pernah mengalami radiasi di daerah sebelum terjadi konsepsi. c. Infeksi Dan Kelainan Kehamilan d. Autoimun dan Kelainan Endokrin Pada ibu Penelitian Fial kow ( dikutip dari Puechel dkk, dalam buku tumbuh kembang anak karangan Soetjiningsih ) secara konsisten mendapatkan adanya perbedaan antibodi ibu yang melahirkan anak dengan sindrom down dengan anak yang normal. Terutama autoimun tiroid atau penyakit yang dikaitkan dengan tiroid. e. Umur Ibu Apabila umur ibu diatas 35 tahun diperkirakan terdapat perubahan hormonal yang dapat menyebabkan “non dijunction” pada kromosom. Perubahan endokrin seperti meningkatnya sekresi androgen, menurunnya kadar hidroepiandrosteron, menurunnya konsentrasi estradiolsistemik, perubahan konsentrasi reseptor hormon danpeningkatan kadar LH dan FSH secara tiba-tiba sebelum dan selam menopause. Selain itu kelainan kehamilan juga berpengaruh. f. Umur Ayah Penilitian sitogenetik mendapatkan bahwa 20 – 30 % kasus penambahan kromosom 21 bersumber dari ayah, tetapi korelasi tidak setinggi dengan faktor ibu. Selain itu ada faktor lain seperti gangguan intragametik, organisasi nukleolus, bahan kimia dan frekuensi koitus. C. GEJALA DAN TANDA Gejala atau tanda-tanda yang muncul akibat down syndrome dapat bervariasi mulai dari yang tidak tampak sama sekali, tampak minimal sampai muncul tanda yang khas. Tanda yang paling khas pada anak yang menderita down syndrome adalah adanya keterbelakangan perkembangan fisik dan mental pada anak (Olds, London, & Ladewing. 1996). Penderita sangat mudah dikenali dengan adanya penampilan fisik yang menonjol berupa bentuk kepala yang relatif kecil dari normal (microchephaly) dengan anteroposterior kepala mendatar. Pada bagian wajah biasanya tampak sela hidung yang datar, mulut yang mengecil dan lidah yang menonjol keluar (macroglossia). Seringkali mata menjadi sipit dengan sudut bagian tengah membentuk lipatan (epicanthal folds) tanda klinis pada bagian tubuh lainnya berupa tangan yang pendek termasuk ruas jari-jarinya serta jarak antara jari pertama dan kedua baik pada dan kaki melebar. Sementara itu lapisan kulit tampaknya keriput (dermatoglyphics). Kelainan kromosom ini juga bisa menyebabkan gangguan atau bahkan kerusakan pada sistem organ yang lain. Pada bayi yang baru lahir kelainan dapat berupa congenital heart disease. Kelainan ini yang biasanya berakibat patal di mana bayi dapat meninggal dengan cepat. Berat badan waktu lahir dari bayi dengan syndrom down umumnya kurang dari normal. Beberapa Bentuk Kelainan Pada Anak Dengan Syndrom Down : 1. Sutura Sagitalis Yang Terpisah 2. Fisura Palpebralis Yang Miring 3. Jarak Yang Lebar Antara jari Kaki I dan II 4. Fontanela “Palsu” 5. “Plantar Crease” Jari Kaki I Dan II 6. Hyperfleksibilitas 7. Peningkatan Jaringan Sekitar Leher 8. Bentuk Palatum Yang Abnormal 9. Hidung Hipoplastik 10. Kelemahan Otot dan Hipotonia 11. Bercak Brushfield Pada Mata 12. Mulut Terbuka Dan Lidah Terjulur 13. Lekukan Epikantus (Lekukan Kulit Yang Berbentuk Bundar) Pada Sudut Mata Sebelah Dalam 14. “Single Palmar Crease” Pada Tangan Kiri Dan Kanan 15. “Brachyclinodactily” tangan kiri dan tangan kanan 16. Jarak Pupil Yang Lebar 17. Oksiput Yang Datar 18. Tangan Dan Kaki Yang Pendek Serta Lebar 19. Bentuk / Struktur Telinga Yang Abnormal 20. Kelainan Mata, Tangan, Kaki, Mulut, Sindaktili 21. Mata Sipit Gejala-Gejala Lain : 1. Anak-anak yang menderita kelainan ini umumnya lebih pendek dari anak yangumurnya sebaya. 2. Kepandaiannya lebih rendah dari normal. 3. Lebar tengkorak kepala pendek, mata sipit dan turun, dagu kecil yang manalidah kelihatan menonjol keluar dan tangan lebar dengan jari-jari pendek. 4. Pada beberapa orang, mempunyai kelainan jantung bawaan.Juga sering ditemukan kelainan saluran pencernaan seperti atresia esofagus (penyumbatan kerongkongan) dan atresia duodenum, juga memiliki resiko tinggi menderita leukimia limfositik akut. Dengan gejala seperti itu anak dapat mengalami komplikasi retardasi mental, kerusakan hati bawaan, kelemahan neurosensori, infeksi saluran nafas berulang, kelainan GI. Komplikasi yang mungkin dialami : 1. Penyakit Alzheimer’s (penyakit kemunduran susunan syaraf pusat) 2. Leukimia (penyakit dimana sel darah putih melipat ganda tanpa terkendalikan). D. PATOFISIOLOGI Down Syndrome disebabkan adanya kelainan pada perkembangan kromosom. Kromosom merupakan serat khusus yang terdapat pada setiap sel tubuh manusia dan mengandung bahan genetik yang menentukan sifat-sifat seseorang. Pada bayi normal terdapat 46 kromosom (23 pasang) di mana kromosom nomor 21 berjumlah 2 buah (sepasang). Bayi dengan penyakit down syndrome memiliki 47 krososom karena kromosom nomor 21 berjumlah 3 buah. Kelebihan 1 kromosom (nomor 21) atau dalam bahasa medisnya disebut trisomi-21 ini terjadi akibat kegagalan sepasang kromosom 21 untuk saling memisahkan diri saat terjadi pembelahan. Trisomi-21 menyebabkan fisik penderita down syndrome tampak berbeda dengan orang-orang umumnya. Selain ciri khas pada wajah, mereka juga mempunyai tangan yang lebih kecil, jari- jari pendek dan kelingking bengkok. Keistimewaan lain yang dimiliki oleh penderita down syndrome adalah adanya garis melintang yang unik di telapak tangan mereka. Garis yang disebut simiancrease ini juga terdapat di kaki mereka, yaitu antara telunjuk dan ibu jari mereka yang berjauhan (sandal foot). E. DIAGNOSIS Pemeriksaan diagnostik digunakan ntuk mendeteksi adanya kelainan sindrom down, ada beberapa pemeriksaan yang dapat membantu menegakkan diagnosa ini, antara lain: a) Pemeriksaan fisik penderita b) Pemeriksaan kromosom (Kariotip manusia biasa hadir sebagai 46 autosom+XX atau 46 autosom+XY, menunjukkan 46 kromosom dengan aturan XX bagi betina dan 46 kromosom dengan aturan XY bagi jantan, tetapi pada sindrom down terjadi kelainan pada kromosom ke 21 dengan bentuk trisomi atau translokasi kromosom 14 dan 22). Kemungkinan terulang pada kasus (trisomi adalah sekitar 1%, sedangkan translokasi kromosom 5-15%) c) Ultrasonograpgy (didapatkan brachycephalic, sutura dan fontela terlambat menutup, tulang ileum dan sayapnya melebar) d) ECG (terdapat kelainan jantung) e) Echocardiogram untuk mengetahui ada tidaknya kelainan jantung bawaan mungkin terdapat ASD atau VSD. f) Pemeriksaan darah (percutaneus umbilical blood sampling) salah satunya adalah Dengan adanya Leukemia akut menyebabkan penderita semakin rentan terkena infeksi, sehingga penderita ini memerlukan monitoring serta pemberian terapi pencegah infeksi yang adekuat. g) Penentuan aspek keturunan h) Dapat ditegakkan melalui pemeriksaan cairan amnion atau korion pada kehamilan minimal 3 bulan, terutama kehamilan di usia diatas 35 tahun keatas i) Pemeriksaan dermatoglifik yaitu lapisan kulit biasanya tampak keriput. F. PENATALAKSANAAN a) Penanganan Secara Medis Sampai saat ini belum ditemukan metode pengobatan yang paling efektif untuk mengatasi kelainan ini. Dengan demikian penatalaksanaan dioptimalkan untuk meminimalkan dampak yang dapat terjadi pada penderita serta memberikan dukungan yang dapat memungkinkan penderita dapat tumbuh dan berkembang serta mampu bersosialisasi dengan baik. Pada tahap perkembangannya penderita Down syndrom juga dapat mengalami kemunduran dari sistim penglihatan, pendengaran maupun kemampuan fisiknya mengingat tonus otot-oot yang lemah. Dengan demikian penderita harus mendapatkan support maupun informasi yang cukup serta kemudahan dalam menggunakan sarana atau fasilitas yang sesuai berkaitan dengan kemunduran perkembangan baik fisik maupun mentalnya. Pembedahan biasanya dilakukan pada penderita untuk mengoreksi adanya defek pada jantung, mengingat sebagian besar penderita lebih cepat meninggal dunia akibat adanya kelainan pada jantung tersebut. Dengan adanya Leukemia akut menyebabkan penderita semakin rentan terkena infeksi, sehingga penderita ini memerlukan monitoring serta pemberian terapi pencegah infeksi yang adekuat. Penanganan Secara Medis yang dapat dilakukan antara lain : a. Pembedahan Pembedahan biasanya dilakukan pada penderita untuk mengoreksi adanya defek pada jantung, mengingat sebagian besar penderita lebih cepat meninggal dunia akibat adanya kelainan pada jantung tersebut. b. Pemeriksaan Dini c. Pendengaran Biasanya terdapat gangguan pada pendengaran sejak awal kelahiran, sehingga dilakukan pemeriksaan secara dini sejak awal kehidupannya. d. Penglihatan Sering terjadi gangguan mata, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan secara rutin oleh dokter ahli mata. e. Pemeriksaan Nutrisi Pada perkembangannya anak dengan sindrom down akan mengalami gangguan pertumbuhan baik itu kekurangan gizi pada masa bayi dan prasekolah ataupun kegemukan pada masa sekolah dan dewasa, sehingga perlu adanya kerjasama dengan ahli gizi. f. Pemeriksaan Radiologis Diperlukan pemeriksaan radiologis untuk memeriksa keadaan tulang yan dianggap sangat mengganggu atau mengancam jiwa (spina servikalis). b) Pendidikan a. Pendidikan khusus Program khus untuk menangani anak dengan sindrom down adalah membuat desain bangunan dengan menerapkan konsep rangsangan untuk tempat pendidikan anak-anak down's syndrome. Ada tiga jenis rangsangan, yakni fisik, akademis dan sosial. Ketiga rangsangan itu harus disediakan di dalam ruangan maupun di luar ruangan. Hal ini diharapkan anak akan mampu melihat dunia sebagai sesuatu yang menarik untuk mengembangkan diri dan bekerja. b. Taman bermain atau taman kanak – kanak Rangsangan secara motorik diberikan melalui pengadaan ruang berkumpul dan bermain bersama (outdoor) seperti : • Cooperative Plaza untuk mengikis perilaku pemalu dan penyendiri. • Mini Zoo dan Gardening Plaza adalah tempat bagi anak untuk bermain bersama hewan dan tanaman c. Intervensi dini. Pada akhir – akhir ini terdapat sejumlah program intervensi dini yang dipakai sebagai pedoman bagi orang tua untuk memberikan lingkungan bagi anak dengan sindrom down. Akan mendapatkan manfaat dari stimulasi sensori dini, latihan khusus untuk motorik halus dan kasar dan petunjuk agar anak mau berbahasa. Dengan demikian diharapkan anak akan mampu menolong diri sendiri, seperti belajar makan, pola eliminasi, mandi dan yang lainnya yang dapat membentuk perkembangan fisik dan mental. c) Penyuluhan terhadap orang tua Diharapkan penjelasan pertama kepada orang tua singkat, karena kita memandang bahwa perasaan orang tua sangat beragam dan kerena kebanyakan orang tua tidak menerima diagnosa itu sementara waktu, hal ini perlu disadari bahwa orang tua sedang mengalami kekecewaan. Setelah orang tua merasa bahwa dirinya siap menerima keadaan anaknya, maka penyuluhan yang diberikan selanjutnya adalah bahwa anak dengan sindrom down itu juga memiliki hak yang sama dengan anak normal lainnya yaitu kasih sayang dan pengasuhan. Pada pertemuan selanjutnya penyuluhan yang diberikan antra lain : Apa itu sindrom down, karakteristik fisik dan antisipasi masalah tumbuh kembang anak. Orang tua juga harus diberi tahu tentang fungsi motorik, perkembangan mental dan bahasa. Demikian juga penjelasan tentang kromosom dengan istilah yang sederhana, informasi tentang resiko kehamilan berikutnya. G. ASUHAN KEPERAWATAN a) Pengkajian Menurut Wong, D.L. (2004), pengkajian pada anak dengan sindrom Down adalah sebagai berikut: 1. Pengkajian pada orang tua Melalui teknik wawancara, kita akan mendapatkan riwayat keluarga, terutama yang berkaitan dengan usia ibu atau anak lain dalam keluarga yang mengalami keadaan serupa. 2. Pengkajian pada anak 1) Mengkaji identitas dan keadaan umum anak Pengkajian ini terdiri dari pemeriksaan secara umum seperti pengkajian identitas anak, pemeriksaan status kesadaran, status gizi, tanda-tanda vital, dan lain-lain. (Hidayat, A.A., 2005: 115). 2) Melakukan pengkajian perkembangan anak Untuk menilai perkembangan anak pertama yang dapat dilakukan adalah dengan wawancara tentang factor kemungkinan yang menyebabkan gangguan dalam perkembangan, kemudian melakukan tes skrining perkembangan anak dengan DDST, tes IQ, dan tes psikologi lainnya. Selain itu juga dapat dilakukan tes lainnya seperti evaluasi dalam lingkungan anak yaitu interaksi anak selama ini, evaluasi fungsi penglihatan, pendengaran, bicara, dan bahasa. (Hidayat, A.A., 2005: 38). 3. Melakukan pengkajian fisik Pengkajian fisik yang dapat kita lakukan adalah mengobservasi adanya manifestasi sindrom Down yang meliputi: 1) Karakter fisik (paling sering terlihat): • Tengkorak bulat kecil dengan oksiput datar • Lipatan epikantus bagian dalam dan fisura palpebra serong (mata miring ke atas, ke luar) • Hidung kecil dengan batang hidung tertekan ke bawah (hidung sadel) • Lidah menjulur (kadang berfisura) • Mandibula hipoplastik (membuat lidah tampak besar) • Palatum berlengkung tinggi • Leher pendek tebal • Muskulatur hipotonik (abdomen buncit, hernia umbilicus) • Sendi hiperfleksibel dan lemas • Garis simian (puncak transversal pada sisi telapak tangan) • Tangan dan kaki lebar, pendek dan tumpul  Intelegensia • Bervariasi dari retardasi hebat sampai intelegensia normal rendah • Umumnya dalam rentang ringan sampai sedang • Kelambatan bahasa lebih berat daripada kelambatan kognitif  Anomali kongenital (peningkatan insidens) • Penyakit jantung kongenital (paling umum) • Defek lain meliputi:  Agenesis renal  Atresia duodenum  Penyakit Hirscprung  Fistula trakeoesofagus  Subluksasi pinggul  Ketidakstabilan vertebra servikal pertama dan kedua (ketidakstabilan atlantoaksial)  masalah sensori (seringkali berhubungan) • Kehilangan pendengaran konduktif (sangat umum) • Strabismus • Myopia • Nistagmus • Katarak • Konjungtivitis  pertumbuhan dan perkembangan seksual • Pertumbuhan tinggi dan berat badan menurun; umumnya obesitas • Perkembangan seksual terlambat, tidak lengkap atau keduanya • Infertile pada pria, wanita dapat fertile • Penuaan premature umum terjadi; harapan hidup rendah 4. Untuk memperoleh data penunjang, kita dapat melakukan test diagnostic (pemeriksaan penunjang) misalnya: a. Neuroradiologi b. Ekoensefalografi c. Biopsy otak d. Penelitian biokimiawi e. Analisis kromosom f. Rontgent dada g. Rontgent saluran pencernaan h. Ekokardiogram i. EKG j. Dermatogiflik k. Uji intelegensi standar l. Uji perkembangan seperti Denver II m. Pengukuran fungsi adaptif Hal lain yang perlu dikaji : a. Selama Masa Neonatal Yang Perlu Dikaji : 1. Keadaan suhu tubuh terutama masa neonatal 2. Kebutuhan nutrisi / makan 3. Keadaan indera pendengaran dan penglihatan 4. Pengkajian tentang kemampuan kognitif dan perkembangan mental anak 5. Kemampuan anak dalam berkomunikasi dan bersosialisasi 6. Kemampuan motorik 7. Kemampuan keluarga dalam merawat anak denga syndrom down terutama tentang kemajuan perkembangan mental anak b. Pengkajian terhadap kemampuan motorik kasar dan halus c. Pengkajian kemampuan kognitif dan perkembangan mental d. Pengkajian terhadap kemampuan anak untuk berkomunikasi e. Tes pendengaran, penglihatan dan adanya kelainan tulang f. Bagaimana penyesuaian keluarga terhadap diagnosis dan kemajuan perkembangan mental anak. b) Diagnosa 1. Perubahan nutrisi (pada neonatus) : kurang dari kebutuhan berhubungan dengan kesulitan pemberian makanan karena lidah yang menjulur dan palatum yang tinggi. 2. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan hipotonia, peningkatan kerentanan terhadap infeksi pernapasan 3. Resiko tinggi konstipasi berhubungan dengan hipotonia 4. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan keterbatasan fisik dan mental yang mereka miliki. 5. Resiko terhadap cidera berhubungan dengan hipotonia, hiperekstensibilitas sendi,instabilitas. 6. Kurangnya interaksi sosial anak b/d keterbatasan fisik dan mental yang mereka miliki. 7. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan faktor finansial yang dibutuhkan dalam perawatan dan mempuyai anak yang tidak normal. 8. Defisit pengetahuan (orang tua) b/d perawatan anak syndrom down. c) Rencana/Intervensi Keperawatan 1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengankesulitan pemberian makanan karena lidah yang menjulur dan palatum yang tinggi. • Tujuan : Masukan nutrisi adekuat untuk kebutuhan individu • Kriteria : BB progresif kearah tujuan dengan nilainya bebas dari nutrisi. • Intervensi: a. Kaji status nutrisi secara kontinue, selama perawatan setiap hari, perhatikan tingkat energi; kondisi kulit, kuku, rambut, rongga mulut, keinginan untuk makan/anoreksia.  R/ memberikan kesempatan untuk mengobservasi penyimpangan dari normal/dasar pasien dan mempengaruhi pilihan intervensi b. Timbang BB setiap hari dan bandingkan dengan BB saat penerimaan.  R/ Membuat data dasar, membantu dalam memantau keefektifan aturan terapeutik, dan menyadarkan perawat terhadap ketidaktepatan kecendrungan dalam penurunan/penambahan BB c. Dokumentasikan masukan oral slama 24 ja, riwayat makanan, jumlah kalori dengan tepat.  R/ Mengidentifikasikan ketidakseimbangan antara perkiraan kebutuhan nutrisi dan masukan aktual d. Berikan larutan nutrisi pada kecepatan yang dianjurkan melalui alat kontrol infus sesuai kebutuhan. Atur kecepatan pemberian setiap jam sesuai anjuran.  R/ Ketentuan dukungan nutrisi didasarkan pada perkiraan kebutuhan kalori dan protein. Kecepatan konisten dari pemberian nutrisi akan menjamin penggunaan tepat dengan efek samping lebih sedikit, seperti hiperglikemia/sindrom dumping. Infus secara umum lebih baik ditoleransi dari pada pemberian makan bolus dan mengakibatkan perbaikan absorvasi e. Pertahankan retensi selang pemberian makan enteral dengan membilas air hangat, sesuai indikasi.  R/ Formula enteral mengandung protein yang menghambat selang pemberian makan (silikon) mungkin daripada selang poliuretan yang memerlukan pembuangan/pergantian selang 2. Resiko Tinggi Infeksi Berhubungan Dengan tidak adekuatnya mekanisme pertahanan tubuh, Hipotonia, Peningkatan Kerentanan Terhadap Infeksi Pernapasan. • Tujuan : Pasien Tidak Menunjukan Bukti-Bukti Infeksi Pernafasan. • Kriteria Hasil : Anak Tidak Menunjukkan Bukti Infeksi Atau Distress Pernafasan • Intervensi : a. ajarkan keluarga tentang menggunaan teknik mencuci tangan yang baik  R/untuk meminimalkan pemajanan pada organisme infektif. b. tekankan pentingnya mengganti posisi anak dengan sering ,terutama menggunakan postur duduk.  R/untuk mencegah penumpukan sekresi dan memudahkan ekspansi paru. c. Dorong menggunaan vaporizer uap dingin.  R/ untuk mencegah krusta sekresi nasal dan mengeringnya membrane mukosa. d. Ajarkan pada keluarga pengisapan hidung dengan spuit tipe-bulb  R/karena tulang hidung anak yang tidak berkembang menyebabkan masalah kronis ketidak adekuatan drainase mucus. e. Tekankan pentingnya perawatan mulut yang baik (mis,lanjutkan pemberian makanan dengan air jernih),sikat gigi.  R/untuk menjaga mulut sebersi mungkin. f. Dorong kepatuhan terhadap imunitas yang di anjurkan.  R/untuk mencegah infeksi. g. Tekankan pentingnya menyelesaikan program antibiotic bila di istrusikan.  R/ untuk kebersihan penghilangan infeksi dan mencegah pertumbuhan organisme. 3. Resiko tinggi konstipasi berhubungan dengan hipotonia • Hasil yang diharapkan : Anak tidak mengalami konstipasi • Intervensi : a. Pantau frekuensi dan karakteristik defekasi  R/: untuk mendeteksi konstipasi. b. Tingkatkan hidrasi adekuat  R/: untuk mencegah konstipasi. c. Berikan diet tinggi seratpada anak  R/: untuk meningkatkan evakuasi feses. d. Berikan pelunak feses, supositoria, atau laksatif sesuai kebutuhan dan instruksi  R/: untuk eliminasi usus. 4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik • Tujuan: Adanya peningkatan toleransi aktivitas • Kriteria: Melaporkan/menunjukkan peningkatan toleransi terhadap aktivitas yang dapat diukur dengan tak adanya dispnea, kelemahan berlebihan, dan tanda vital dalam rentang normal. • Intervensi: a. Evalusi respon terhadap aktivitas. Catat laporan dispnea, peningkatan kelemahan/kelelahan dan perubahan TTV selama dan aktivitas.  R/ Menetapkan kemampuan/kebutuhan klien dan memudahkan pilihan intervensi b. Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung selama fase akut sesuai indikasi.  R/ Menurunkan stress dan rangsangan berlebihan, meningkatkan istirahat c. Bantu klien memilih posisi nyaman untuk istirahat dan tidur.  R/Klien mungkun nyaman dengan kepala tinggi d. Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan.  R/ Meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan suplai 5. Risiko tinggi cedera berhubungan dengan hipotonia, hiperekstensibilitas sendi, instabilitas atlantoaksial • Tujuan : pasien tidak mengalami cedera yang berkaitan dengan aktifitas fisik • Intervensi : a. Anjurkan aktifitas bermain dan olahraga yang sesuai dengan maturasi fisik anak, ukuran , koordinasi, dan ketahanan  R/ : untuk menghindari cedera  Ajari keluarga dan pemberi perawatan lain (mis, guru/pelatih) gejala instabilitas atlantoaksial (nyeri leher, kelemahan, tortikolis)  R/ sehingga perawatan yang tepat dapat diberikan.  Laporkan dengan segera adanya kompresi medula spinalis (nyeri leher menetap, hilangnya keterampilan motorik stabil dan kontrol kandung kemih/usus, perubahan sensasi)  R/ untuk mencegah keterlambatan pengobatan 6. Kurangnya interaksi sosial anak b/d keterbatasan fisik dan mental yang mereka miliki. • Tujuan: kebutuhan akan sosialisasi terpenuhi • Intervensi: a. Motivasi orang tua agar memberi kesempatan anak untuk bermain dengan teman sebaya agar anak mudah bersosialisasi  R/ Pertukem anak tidak semaikin terhambat b. Beri keleluasaan / kebebasan pada anak untuk berekspresi  R/ Kemampuan berekspresi diharapkan dapat menggali potensi anak 7. Perubahan Proses Keluarga Berhubungan Dengan Mempunyai Anak Yang Menderita Sindrom Down. • Tujuan Untuk Keluarga 1 : Pasien (Keluarga) Menunjukan Perilaku Kedekatan Orang Tua Dan Bayi • Kriteria Hasil : Orang Tua Anak Menunjukan Perilaku Kedekatan. • Intervensi : a. Tunjukan penerimaan terhadap anak melalui perilaku anda sendiri  R/karena orang tua sensitive terhadap sifat efektif orang lain. b. Jelaskan pada keluarga molding atau clinging pada bayi adalah karakteristik fisik dari sidrom down.  R/karena hal ini mungkin di interpretasikan dengan mudah sebagai tanda ketidak dekatan atau penolakan. c. Anjurkan orng tua untuk membendung atau menyelimuti bayi dengan ketat dalam selimut.  R/untuk memberikan keamanan dan kompensassi terhadap kurangnya molding atau clinging. d. Rujuk ke pelayanan konseling genetic bila dindikasi dan / atau diinginkan  R/agar keluarga mendapatkan informasi dan dukungan. e. Rujuk pada organisasi dan kelompok orang tua yang di rancang untuk keluarga dengan anak sindrom down.  R/agar keluarga mendapatkan dukungan lanjutan. f. Tekanan aspek positif dari merawat anak dirumah  R/untuk membantu keluarga memaksimalkan potensi perkembangan anak. 8. Defisit pengetahuan (orang tua) b/d perawatan anak syndrom down. • Tujuan: orang tua/keluarga mengerti tentang perawatan pada anaknya • Criteria hasil : orangtua/keluarga mengerti dan berpartisipasi dalam perawatan anaknya. • Intervensi: a. Berikan motivasi pada orang tua agar memberi lingkungan yang memadai pada anak  R/ lingkungan yang memadai mendukung anak untuk berkembang b. Dorong partisipasi orang tua dalam memberi latihan motorik kasar dan halus serta pentunjuk agar anak mampu berbahasa  R/ Kemampuan berbahasa pada anak akan terlatih c. Beri motivasi pada orang tua dalam memberi latihan pada anak dalam aktivitas sehari-hari.  R/ Aktivitas sehari-hari akan membantu pertukem anak d) Evaluasi : a. Diagnose 1 : • Bayi mengkonsumsi makanan dengan jumlah adekuat yang sesuai dengan usia dan ukurannya • Keluarga melaporkan kepuasan dalam pemberian makanan • Bayi bertambah berat badannya sesuai dengan tabel perkembangan • Keluarga mendapatkan manfaat dari pelayanan spesialis b. Diagnose 2 : • Anak tidak menunjukkan adanya tanda-tanda infeksi atau distress pernafasan c. Diagnose 3 : • Anak tidak mengalami konstipasi d. Diagnose 4 : • Anak menunjukkan peningkatan dalam toleransi aktifitas e. Diagnose 5 : • Anak berpartisipasi dalam aktivitas bermain dan berolahraga • Anak tidak mengalami cedera yang berkaitan dengan aktivitas fisik f. Diagnose 6 : • Anak mampu bersosialisasi dan berinteraksi dengan baik sehingga anak dapat menjalin g. Diagnose 7 : • Orang tua dan anak menunjukkan prilaku kedekatan h. Diagnose 8 : • Keluarga mengetahui tentang perawatan pada anak dengan Sindrome Down • Keluarga berpartisipasi aktif dalam perawatan anaknya BAB II PENUTUP a. Kesimpulan Sindrom Down adalah kecacatan kromosom bercirikan kehadiran bahan genetik salinan tambahan kromosom pada keseluruhan trisomi 21 atau sebahagian, disebabkan translokasi kromosom (wikipedia melayu). Anak dengan sindrom down adalah individu yang dapat dikenali dari fenotipnya dan mempunyai kecerdasan yang terbatas, yang terjadi akibat adanya kromosom 21 yang berlebihan (Soetjiningsih). Penyebab yang spesifik belum diketahui, tapi kehamilan oleh ibu yang berusia diatas 35 tahun beresiko tinggi memiliki anak syndrom down. Karena diperjirakan terdapat perubahan hormonal yang dapat menyebabkan “non-disjunction” pada kromosom yaitu terjadi translokasi kromosom 21 dan 15. Hal ini dapat mempengaruhi pada proses menua. b. Saran Dalam melakukan perawatan pada anak dengan syndrome down, seorang perawat harus mempu mengajak keluarga untuk aktif berpartisipasi dalam setiap kegiatan keperawatan. Hal ini ditujukan untuk memberikan pendidikan kepada keluarga karena setelah keluar dari rumah sakit maka keluargalah yang dituntut untuk bisa melakukan perawatan home care. DAFTAR PUSTAKA Arif, mansjoer (2000). Kapita selekta kedokteran. Jakarta: EGC. Behrman (2000). Nelson ilmu kesehatan anak. Jakarta: EGC Bobak (2005). Buku ajar keperawatn maternitas. Jakarta: EGC. Doenges (2000). Rencana asuhan keperawatan; pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Jakarta: EGC. http://aniksafitri.blogspot.com/2011/08/asuhan-keperawatan-anak-dengan-down.html http://azzamfikrie.blogspot.com/2012/05/askep-pada-down-syndrom.html http://h-bie2.blogspot.com/2009/02/blog-post.html diakses pada 04-05-2010:21.37 http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20080918190804AAHRA1K http://link.cd2000.net/cache/?s=http://varyaskep.wordpress.com/2009/01/21/down-syndrom-pada-anak/ diakses pada 04-05-2010: 21.20 WIB http://nursing-academy.blogspot.com/2011/09/askep-anak-dengan-down-syndrome.html http://varyaskep.wordpress.com/2009/01/21/down-syndrom-pada-anak/ http://varyaskep.wordpress.com/2009/01/21/down-syndrom-pada-anak/ http://www.meriam-sijagur.com/index.php/lifestyle/534-penyakit-sindrom-down.html Indonesia, Universitas.1991.Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta:Infomedika Soetjiningsih.1995. Tumbuh Kembang Anak . Cet 1.Jakarta:EGC Triyanto Saudin, Down Syndrome, www.wikipedia.com Wong, Donna L. 2003. Pedoman Klinis Keperawatan Pedriatrik Edisi 4. Jakara: EGC

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar